SEDIKIT RENUNGAN SEBELUM KEMERDEKAAN, Oleh : Ahmad Kamara, S. Ag

Ketika itu pejuang sangat gigih mempertahankan bangsa untuk kemerdekaan dan betapa pahitnya perjuangan mereka untuk Republik Indonesia. Jika kita bayangkan dari hari ke hari yang mereka rasakan dalam kehidupannya, dari yang mereka makan dan minum,  mencari sesuap nasi sekaligus menghadapi penjajah yang begitu ganas dan kejam. 

Kekejaman penjajah di negara kita yang ingin menguasai dan merampas segala harta bumi Indonesia. Sungguh pahit dan sedih melihat mereka berjuang di bumi pertiwi. 

Sanggupkah kita berjuang seperti mereka,  yang hanya mengandalkan kekuatan bambu runcing melawan penjajah,  Sungguh pahit dan sedih ketika itu gerakan mereka dalam menghadapi penjajah. Terbayang bagi kita seandainya kita berada di masa itu, beranikah atau mengeluhkah yang tiada punya apa-apa untuk mengisi perut sebagai menambah kekuatan dalam berperang. Satu kekuatan yaitu bersatu melawan penjajah., hidup atau mati daripada dijajah. 

Mudah kita berkata,  kita lawan penjajah,  kita berperang,  lebih baik mati dariada dijajah. Namun ketika kita berada di waktu itu,  mungkin kita akan goyah dan rapuh jiwa kita menghadapi penjajah yang mempunyai senjata lengkap.  Mungkin juga kita pasrah menghadapi mereka, kecewa menghadapi kenyataan,  sedih dengan tetesan air mata betapi pahitnya hidup ketika itu.  Hanya satu kata"Perang".

Tak terbayang pada diri kita untuk perang,  tapi bagi pejuang yang dengan semangat tinggi tanpa berharap apa-apa, dengan harap mereka merdeka untuk bangsa.  Tak ada lagi penjajahan, tak ada lagi ke sengsaraan dan penderitaan, tak ada lagi kekecewaan dan kesedihan, tak ada lagi pemuda seperti kami kata mereka di masa akan datang,  cukup kami yang berjuang dalam keadaan ini.  Sungguh mulia dan ikhlas hati mereka dalam perjuangan. 

Perjuangan yang cukup lama,  yang banyak sekali cerita untuk ditulis dalam selembar kertas.  Kertas pun penuh jika kita tulis kisah mereka dalam berjuang.  Hari mereka tak mampu beristirahat sebentar, suara tembakan selalu terdengar.  Mereka terbangun dan berjaga-jaga jika itu musuh yang harus segera dihadapi.  Terkadang tertidur lelap dengan nikmatnya,  ada lagi bunyi suara dentuman di daerah lain.  Mereka tak mampu bernikmat-nikmat tidur dikasur yang empuk untuk tidur sebentar.  Hanya duduk dan tersenyum  yang dirasakan mereka untuk bangun dan bangkit membantu saudara mereka dikejar penjajah. 

Mereka tak mampu berfikir untuk kehidupan masa depan,  di hadapan mereka adalah kematian.  Kematian yang mulia mengharumkan bumi pertiwi, sungguh mulia jiwa mereka gugur di medan perang dengan darah syahid. Ketika kita merenungi masa dulu kita sering meneteskan air mata dan sejenak harapan.  Harapan yang sejati untuk mereka pejuang dengan balasan tempat yang terbaik bagi mereka yaitu surga firdaus. 

Terima kasih pejuang bangsa,  yang rela mengorbankan jiwa, raga, harta benda, pikiran dan waktu demi rakyat Indonesia.  Terima kasih pahlawan kita yang merasakan pahitnya berjuang,  kami tak mampu membalas,  hanya mampu meneruskan perjuangan menjaga NKRI mulai sekarang sampai akan datang.  Terima kasih getaran jiwamu memberikan semangat kepada kami untuk terus bersatu untuk bumi pertiwi.  Terima kasih kami ucapkan atas pelajaran yang kau berikan kepada kami dengan semngat 45. Semua itu kita kembalikan kepada yang kuasa yang telah memberi kekuatan yang sangat dahsyat kepada para pejuang dalam merintis, mendirikan dan membangun negeri tercinta ini dengan menanamkan di dada mereka kembang-kembang keikhlasan yang diridhai Allah Swt.  sehingga tidak sia-sialah perjuangan mereka dalam menempuh kemerdekaan sejati. 

Salam merdeka untuk kita semua. 




Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

HARAPAN UNTUK PERMENDIKNAS NOMOR 7 TAHUN 2025

INDAHNYA MENJADI GURU PENGGERAK